4 Gangguan Pernapasan Akibat Menghirup Asap Kebakaran Hutan

4 Gangguan Pernapasan Akibat Menghirup Asap Kebakaran Hutan
Home Berita 4 Gangguan Pernapasan Akibat Menghirup Asap Kebakaran Hutan
  • Asap kebakaran dapat memicu batuk, sesak napas, dan memperburuk asma atau PPOK
  • Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit paru atau jantung lebih rentan
  • Sesak berat, nyeri dada, kebingungan, atau bibir kebiruan memerlukan pertolongan medis segera
  • Batasi aktivitas luar ruangan, jaga kualitas udara dalam ruangan, dan gunakan respirator yang sesuai

 

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah masih menjadi perhatian.

Berdasarkan laporan BPB-PK Kalimantan Tengah, tercatat 66 kejadian karhutla dalam 24 jam hingga 18 Oktober 2026.

Luas lahan terbakar mencapai 109,70 hektare dengan total 6.639 kejadian kebakaran tercatat secara kumulatif sejak awal tahun.

Paparannya dapat menyebabkan iritasi, memicu serangan asma, serta memperburuk penyakit paru dan jantung yang sudah ada.

Kasus ISPA juga muncul di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak karhutla mencapai 50.891 kasus.

Kalimantan Timur mencatat jumlah kumulatif tertinggi, yakni sekitar 245 ribu kasus hingga minggu ke-33.

Understanding Air Pollution PM2.5 particles - R-PUR

Understanding Air Pollution: PM2.5 particles – R-PUR

Secara global, setiap kenaikan PM2.5 sebesar 10 µg/m³ dikaitkan dengan peluang kunjungan IGD karena asma yang 1,08 kali lebih besar.

Paparan asap kebakaran dalam jangka panjang juga dikaitkan dengan risiko rawat inap yang lebih tinggi, yakni 10% untuk gagal jantung dan 16% untuk asma setiap kenaikan 1 µg/m³.

Apa saja penyakit akibat menghirup asap kebakaran hutan, gejalanya, dan cara mengurangi risiko gangguan kesehatan?

Klinik HealthMed akan membahasnya dalam artikel ini.

 

Penyakit Akibat Menghirup Asap Kebakaran Hutan

Asap kebakaran hutan dapat menimbulkan gangguan kesehatan dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.

Dampaknya bergantung pada konsentrasi polutan, lama paparan, kondisi kesehatan seseorang, serta komposisi bahan yang terbakar.

Berikut beberapa gangguan kesehatan yang berkaitan dengan paparan asap kebakaran hutan.

1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

ISPA merupakan istilah untuk infeksi akut pada saluran pernapasan. Paparan asap dapat mengiritasi saluran napas dan memperburuk keluhan pernapasan.

Tetapi ISPA tidak selalu disebabkan langsung oleh asap karena banyak kasus melibatkan infeksi virus atau bakteri.

Gejala yang dapat muncul pada gangguan pernapasan meliputi batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan kesulitan bernapas.

2. Asma Kambuh atau Memburuk

Partikel halus dan iritan dalam asap dapat memicu peradangan serta penyempitan saluran napas pada penderita asma.

Akibatnya, gejala asma dapat muncul atau memburuk, bahkan ketika paparan berlangsung dalam waktu relatif singkat.

Gejala yang perlu diwaspadai meliputi batuk berulang, mengi atau napas berbunyi, dada terasa sesak, dan kesulitan bernapas.

3. Bronkitis

Bronkitis merupakan peradangan pada bronkus, yaitu saluran yang membawa udara menuju paru-paru.

Paparan asap dan partikel iritan dapat menyebabkan peradangan saluran napas serta memperburuk batuk dan produksi lendir, terutama pada orang dengan gangguan pernapasan sebelumnya.

Keluhan yang mungkin muncul meliputi batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, produksi dahak, dan dada terasa berat.

4. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

PPOK adalah penyakit paru kronis yang menyebabkan hambatan aliran udara dan dapat menimbulkan sesak napas berkepanjangan.

Pada penderita PPOK, paparan polusi udara dari asap kebakaran berpotensi memperburuk gejala atau memicu eksaserbasi, yaitu kondisi ketika keluhan meningkat secara signifikan.

Gejalanya dapat berupa sesak napas yang bertambah berat, batuk lebih sering, dan perubahan jumlah atau karakter dahak.

 

Mengapa Asap Kebakaran Hutan Berbahaya bagi Paru-Paru?

Asap kebakaran hutan mengandung berbagai polutan, terutama PM2.5 yang menyumbang sekitar 90% massa partikel yang dilepaskan kebakaran menurut WHO.

Asap juga mengandung PM10, partikel ultra halus berukuran di bawah 0,1 mikrometer, gas berbahaya, senyawa kimia beracun, logam seperti timbal, dan mikroplastik.

Pada kebakaran gambut di Kalimantan tahun 2015, setiap kilogram gambut yang terbakar melepaskan 17,8–22,3 gram PM2.5, sedangkan kebakaran vegetasi di atas gambut melepaskan 44–61 gram.

Ukurannya sekitar 30 kali lebih kecil daripada diameter rambut manusia membuat PM2.5 dapat menembus jauh ke paru-paru dan sebagian komponennya masuk ke aliran darah.

Paparan ini dapat memicu iritasi, peradangan, dan kerusakan sel, bahkan mempengaruhi pembuluh darah.

PM2.5 juga mengurangi kemampuan paru-paru membersihkan virus dan bakteri sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

 

Gejala Penyakit Setelah Menghirup Asap Kebakaran Hutan

Gejala akibat menghirup asap kebakaran hutan dapat muncul segera atau setelah paparan selama periode tertentu.

Tingkat keparahannya bergantung pada konsentrasi asap, durasi paparan, dan kondisi kesehatan seseorang

  • Iritasi ringan berupa mata perih, hidung berair, atau tenggorokan gatal; segera cari udara bersih
  • Batuk atau sakit tenggorokan; kurangi paparan asap dan pantau gejala
  • Mengi atau sesak ringan; hentikan aktivitas dan ikuti anjuran pengobatan dokter
  • Gejala darurat seperti sesak berat, nyeri dada, kebingungan, atau bibir kebiruan

 

Siapa yang Paling Berisiko Terdampak Asap?

Asap kebakaran dapat memengaruhi siapa saja. Namun, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami dampak kesehatan yang serius.

Anak-anak

Sistem pernapasan anak masih berkembang dan mereka dapat menghirup lebih banyak udara relatif terhadap berat badan dibandingkan orang dewasa.

Karena itu, anak-anak perlu dilindungi dari aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Lansia

Lansia lebih rentan mengalami dampak polusi udara, terutama jika memiliki penyakit paru atau jantung.

Paparan asap dapat memperburuk kondisi yang sudah ada sehingga aktivitas luar ruangan perlu dibatasi ketika asap pekat.

Ibu Hamil

Ibu hamil perlu mengurangi paparan polusi udara karena paparan asap dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi ibu dan berpotensi berkaitan dengan hasil kehamilan yang kurang baik.

Penderita Asma, PPOK, dan Penyakit Jantung

Orang dengan penyakit kronis perlu lebih berhati-hati karena asap dapat memicu kekambuhan atau memperburuk gejala.

 

Apa yang Harus Dilakukan Setelah Menghirup Asap Kebakaran?

Jika tidak sengaja menghirup asap kebakaran hutan, segera kurangi paparan dan pantau kondisi tubuh untuk mencegah gangguan kesehatan yang lebih serius

Menjauh dari Sumber Asap

Masuk ke ruangan dengan udara lebih bersih dan hindari aktivitas berat di luar ruangan. Jika harus keluar saat asap pekat, gunakan respirator N95 yang pas di wajah jika sesuai untuk kondisi.

Menjaga Udara di Rumah

Tutup pintu dan jendela, gunakan AC dalam mode resirkulasi, dan nyalakan pembersih udara berfilter HEPA jika tersedia. Hindari rokok, lilin, dan aktivitas lain yang menghasilkan asap.

Mengikuti Pengobatan Dokter

Penderita asma atau PPOK perlu melanjutkan obat sesuai resep dan mengikuti rencana penanganan dari dokter.

Gunakan inhaler pereda sesuai petunjuk dan jangan mengubah dosis sendiri.

Mencari Pertolongan Medis

Segera ke IGD jika mengalami sesak berat, nyeri dada, kebingungan, bibir membiru, atau inhaler tidak membantu.

Jika gejala ringan menetap atau memburuk, konsultasikan dengan tenaga kesehatan. Informasi layanan kesehatan dapat ditanyakan melalui Halo Kemenkes di 1500-567.

 

Cara Mencegah Dampak Asap Kebakaran Hutan

Pencegahan dilakukan dengan mengurangi paparan asap dan membatasi aktivitas saat kualitas udara memburuk. Berikut langkah yang dapat diterapkan sehari-hari

  • Pantau kualitas udara melalui sumber resmi dan ikuti imbauan pemerintah setempat
  • Batasi aktivitas luar ruangan terutama olahraga dan kegiatan berat saat udara berasap
  • Gunakan respirator yang sesuai seperti N95 yang terpasang rapat jika harus keluar saat asap pekat
  • Jaga udara dalam rumah dengan menutup jendela, menggunakan filter udara jika tersedia, dan menghindari sumber asap
  • Siapkan kebutuhan kesehatan dengan memastikan obat rutin tersedia dan mengetahui lokasi fasilitas kesehatan terdekat

 

Kapan Harus ke Dokter akibat Paparan Asap?

Tidak semua paparan asap memerlukan pemeriksaan di rumah sakit. Namun, keputusan mencari pertolongan perlu mempertimbangkan tingkat keparahan gejala, lama paparan, dan kondisi kesehatan seseorang.

Segera cari pertolongan medis darurat jika seseorang mengalami:

  • Sesak napas berat atau kesulitan berbicara karena kehabisan napas
  • Nyeri dada yang berat atau menetap
  • Kebingungan, penurunan kesadaran, atau bibir kebiruan

 

FAQ Seputar Penyakit Akibat Menghirup Asap Kebakaran Hutan

Apa saja penyakit akibat menghirup asap kebakaran hutan?

Paparan asap dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, memicu serangan asma, dan memperburuk PPOK atau penyakit jantung.

Paparan berat juga dapat menimbulkan gangguan pernapasan akut. Risiko bergantung pada konsentrasi asap, durasi paparan, dan kondisi kesehatan seseorang.

Apa gejala setelah menghirup asap kebakaran hutan?

Gejalanya dapat berupa mata perih, hidung berair, batuk, sakit tenggorokan, mengi, dan sesak napas.

Gejala berat seperti nyeri dada, kebingungan, atau kesulitan bernapas memerlukan pertolongan medis segera.

Apakah menghirup asap kebakaran hutan bisa menyebabkan pneumonia?

Asap kebakaran dapat mengiritasi saluran napas dan memperburuk kondisi paru, tetapi pneumonia umumnya merupakan infeksi paru yang disebabkan oleh mikroorganisme.

Tidak semua orang yang menghirup asap akan mengalami pneumonia. Diagnosis memerlukan pemeriksaan medis.

Apa yang harus dilakukan jika tidak sengaja menghirup asap kebakaran?

Segera menjauh dari sumber asap, cari udara yang lebih bersih, hentikan aktivitas berat, dan pantau gejala. 

Jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada, atau kebingungan, segera cari pertolongan darurat.

Bagaimana cara melindungi paru-paru saat terjadi kabut asap?

Kurangi aktivitas luar ruangan, pantau kualitas udara, jaga udara dalam rumah tetap bersih, dan gunakan respirator partikulat yang sesuai jika harus keluar.

Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit paru atau jantung perlu mengambil langkah perlindungan tambahan.

 

Baca Juga:

Dampak Abu Vulkanik Krakatau bagi Paru-Paru & Cara Kurangi Risikonya

Ketahui Adenokarsinoma Paru yang Dikaitkan dengan Paus Leo XIV

Apakah Pneumonia Menular? Kenali Jenis dan Cara Penularannya

 

Referensi:

¹ L. Susanto, “Infografik: Karhutla Picu Lonjakan Kasus ISPA,” Katadata, 3 September 2026, https://katadata.co.id/infografik/6a991f78617e4/infografik-karhutla-picu-lonjakan-kasus-ispa.

² J. A. Hutchinson dkk., “The San Diego 2007 Wildfires and Medi-Cal Emergency Department Presentations, Inpatient Hospitalizations, and Outpatient Visits: An Observational Study of Smoke Exposure Periods and a Bidirectional Case-Crossover Analysis,” PLoS Medicine 15, no. 7 (2018): e1002601, https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1002601.

³ M. Zhang dkk., “Cardiopulmonary Hospitalization Risks from Wildfire-Specific and Non-Wildfire PM2.5 in 20 US States,” Nature Communications 17, no. 1 (2026), https://doi.org/10.1038/s41467-026-76974-7.

⁴ World Health Organization, “Wildfires,” WHO Fact Sheets, diakses 20 Oktober 2026, https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/wildfires-and-health.

Picture of Artikel Telah Ditinjau oleh Profesional
Artikel Telah Ditinjau oleh Profesional

dr. Reyner Ricardo · General Practioner · Universitas Tarumanagara

Demam Tak Kunjung Reda?

Tes darah lengkap, diagnosis cepat, dan konsultasi dokter untuk penanganan yang tepat. Hanya di Klinik HealthMed!