- Prediabetes adalah kondisi kadar gula darah di atas normal tetapi belum masuk kategori diabetes tipe 2
- Banyak orang tidak menyadari kondisinya karena gejala muncul secara perlahan atau tanpa keluhan
- Tanda yang sering muncul meliputi rasa haus berlebihan, mudah lelah, sering buang air kecil, dan penglihatan kabur
- Faktor risiko utama meliputi obesitas, kurang aktivitas fisik, riwayat keluarga diabetes, dan usia di atas 45 tahun
- Deteksi dini serta perubahan gaya hidup sehat dapat membantu mencegah perkembangan menjadi diabetes tipe 2
Prediabetes sering dianggap sepele karena belum menimbulkan gejala awal yang jelas.
Padahal, kondisi ini bisa menjadi sinyal awal bahwa tubuh mulai kesulitan mengendalikan kadar gula darah.
Yang mengejutkan, banyak orang baru menyadarinya setelah kadar gula darah sudah tinggi atau muncul komplikasi.
Kondisi ini menjadi perhatian mengingat Indonesia kini menempati peringkat kelima dunia dengan jumlah penderita diabetes terbanyak, berada di bawah China, India, dan Amerika.
Lalu, apa saja gejala prediabetes yang sering tidak disadari?
Klinik HealthMed akan membahasnya di artikel ini.
Indonesia Masuk 5 Besar Dunia Kasus Diabetes
Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) 2025, sekitar 20,4 juta penduduk Indonesia berusia 20-79 tahun hidup dengan diabetes.
Jumlah tersebut menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia setelah China, India, Amerika Serikat, dan Pakistan.
IDF memperkirakan terdapat 589 juta orang hidup dengan diabetes atau setara 11,1% populasi dunia.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan masih banyak kasus diabetes di Indonesia yang belum terdeteksi.
Menurutnya, diabetes melitus tidak boleh dianggap sebagai penyakit yang ringan karena dapat menyebabkan disabilitas dan berbagai komplikasi serius.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan diabetes melitus (DM) dapat menyebabkan komplikasi serius pada ginjal, saraf, mata, jantung, dan pembuluh darah.
Di RSCM pada 2023, komplikasi yang paling banyak ditemukan adalah nefropati (45,57%), neuropati (43,71%), retinopati (21,58%), dan penyakit arteri perifer (8,5%).
Tantangan diabetes di Indonesia tidak hanya terletak pada tingginya jumlah kasus, tetapi juga pada rendahnya tingkat deteksi dan pengendalian penyakit.
Apa Itu Prediabetes?
Prediabetes adalah kondisi ketika kadar glukosa darah lebih tinggi dari nilai normal, tetapi belum memenuhi kriteria diagnosis diabetes tipe 2.
Kondisi ini biasanya terjadi karena tubuh mulai mengalami resistensi insulin atau kemampuan pankreas dalam menghasilkan insulin mulai menurun.
Insulin merupakan hormon yang membantu gula dari makanan masuk ke dalam sel tubuh untuk digunakan sebagai energi.
Umumnya kondisi prediabetes memiliki kadar gula darah berada pada kisaran 42-47 mmol/mol, lebih tinggi dari normal tetapi belum mencapai diabetes tipe 2 (48 mmol/mol atau lebih).
Ketika insulin tidak bekerja secara optimal, gula akan menumpuk di dalam aliran darah sehingga kadar gula darah meningkat secara bertahap.
Meski belum termasuk diabetes, prediabetes dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2 dalam beberapa tahun jika dibiarkan.
Prediabetes dapat meningkatkan risiko berbagai masalah komplikasi kesehatan, antara lain:
- Kolesterol tinggi
- Hipertensi (tekanan darah tinggi)
- Infeksi kulit
- Gangguan pendengaran
- Neuropati diabetik (kerusakan saraf)
- Retinopati diabetik (gangguan penglihatan)
- Nefropati diabetik (kerusakan ginjal)
- Luka kaki diabetik (berisiko amputasi)
- Penyakit jantung
- Penyakit Alzheimer (penurunan fungsi otak)
Mengapa Banyak Orang Tidak Sadar Terkena Diabetes?
Salah satu alasan utama mengapa banyak orang tidak sadar terkena diabetes adalah karena gejalanya sering muncul secara perlahan.
Pada tahap awal, peningkatan kadar gula darah belum tentu menimbulkan keluhan yang nyata sehingga penderita tetap merasa sehat.
Selain itu, banyak orang jarang melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin yang berakibat kadar gula darah yang meningkat baru diketahui ketika muncul komplikasi.
4 Gejala Prediabetes yang Sering Diabaikan
1. Sering Haus dan Lapar
Salah satu gejala prediabetes yang cukup umum adalah rasa haus dan lapar yang muncul lebih sering dari biasanya.
Ketika kadar gula darah meningkat, tubuh berusaha mengeluarkan kelebihan gula melalui urine sehingga cairan tubuh lebih cepat berkurang.
Kondisi tersebut membuat tubuh memicu rasa haus secara terus-menerus. Di sisi lain, sel-sel tubuh tidak mendapatkan energi yang cukup karena glukosa sulit masuk ke dalam sel.
2. Badan Mudah Lelah
Tubuh membutuhkan glukosa sebagai sumber energi utama, namun pada prediabetes glukosa tidak dapat dimanfaatkan secara optimal karena adanya gangguan kerja insulin.
Akibatnya, tubuh merasa lemas dan mudah lelah meskipun aktivitas yang dilakukan tidak terlalu berat.
Sebagian orang juga mengeluhkan sulit berkonsentrasi atau merasa tidak bertenaga sepanjang hari.
Kelelahan yang terjadi terus-menerus tanpa sebab yang jelas perlu mendapatkan perhatian karena dapat menjadi salah satu tanda gangguan metabolisme.
3. Sering Buang Air Kecil
Kadar gula darah yang tinggi membuat ginjal bekerja lebih keras untuk membuang kelebihan gula melalui urine.
Proses ini menyebabkan frekuensi buang air kecil meningkat, terutama pada malam hari.
Semakin banyak cairan yang dikeluarkan tubuh, semakin besar pula risiko dehidrasi ringan.
4. Penglihatan Mulai Kabur
Peningkatan kadar gula darah dapat mempengaruhi keseimbangan cairan pada lensa mata yang apat menyebabkan penglihatan menjadi buram atau kurang fokus.
Risiko retinopati diabetik meningkat seiring lamanya seseorang menderita diabetes, terutama jika gula darah tidak terkontrol.
Gejalanya meliputi penglihatan kabur, bintik atau bayangan, sulit melihat saat malam, penglihatan ganda, mata merah, hingga tekanan pada mata.
Pada sebagian orang, gangguan penglihatan dapat muncul sementara dan membaik ketika kadar gula darah kembali stabil.
Namun, jika dibiarkan dalam jangka panjang, risiko kerusakan pada mata dapat meningkat.
Siapa yang Berisiko Mengalami Prediabetes?
Orang dengan Obesitas
Kelebihan berat badan merupakan salah satu faktor risiko terbesar terjadinya prediabetes.
Penumpukan lemak, terutama di area perut, dapat mengganggu respons tubuh terhadap insulin.
Semakin tinggi indeks massa tubuh seseorang, semakin besar pula kemungkinan terjadinya resistensi insulin.
Orang yang Kurang Aktivitas Fisik
Kurangnya aktivitas fisik membuat tubuh kurang efisien dalam menggunakan glukosa sebagai sumber energi.
Olahraga membantu meningkatkan sensitivitas insulin sehingga glukosa dapat digunakan lebih efektif oleh sel-sel tubuh.
Riwayat Keluarga Diabetes
Seseorang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.
Faktor genetik dapat mempengaruhi cara tubuh memproduksi dan menggunakan insulin, meskipun tidak dapat diubah, risiko ini dapat dikurangi.
Berusia di Atas 45 Tahun
Risiko prediabetes cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, ini berkaitan dengan perubahan metabolisme tubuh dan penurunan sensitivitas insulin.
Meski demikian, kondisi ini juga semakin banyak ditemukan pada usia yang lebih muda akibat pola hidup yang kurang sehat.
Faktor Lainnya
Beberapa kondisi lain juga dapat meningkatkan risiko prediabetes, contohnya adalah hipertensi, kadar kolesterol tinggi, sleep apnea, dan sindrom ovarium polikistik (PCOS).
Selain itu, pola makan tinggi gula, konsumsi makanan ultra proses, kurang tidur, merokok, dan stres berkepanjangan juga berkontribusi terhadap peningkatan risiko.
Kombinasi beberapa faktor tersebut dapat mempercepat terjadinya gangguan ‘pengaturan’ gula darah dalam tubuh.
Cara Mengetahui Apakah Anda Mengalami Prediabetes
Karena sering tidak menimbulkan keluhan yang jelas, diagnosis prediabetes umumnya dilakukan melalui pemeriksaan lab.
Untuk menegakkan diagnosis, dokter dapat melakukan tes seperti:
- Tes Gula Darah Puasa (GDP): 100–125 mg/dL menunjukkan prediabetes (≥126 mg/dL diabetes)
- Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO): 140–199 mg/dL menunjukkan prediabetes (≥200 mg/dL diabetes)
- Tes Hemoglobin A1c (HbA1c): 5,7–6,4% menunjukkan prediabetes (≥6,5% diabetes)
- Tes Estimasi Glukosa Rata-Rata (eAG): estimasi rata-rata gula darah untuk membantu menilai kondisi prediabetes atau diabetes
Anda disarankan untuk berkonsultasi ke dokter apabila mengalami gejala yang menetap, memiliki riwayat keluarga diabetes, atau memiliki berat badan berlebih.
Pemeriksaan lebih lanjut juga dapat dilakukan di Klinik Healthmed untuk membantu deteksi dini dan penanganan yang sesuai.
Bisakah Prediabetes Dicegah?
Kabar baiknya, prediabetes bisa sembuh sering kali bergantung pada perubahan gaya hidup yang dilakukan sejak dini.
Pada banyak kasus, kadar gula darah dapat kembali ke rentang normal apabila faktor risiko berhasil dikendalikan.
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah prediabetes:
- Mengatur pola makan dengan memperbanyak konsumsi sayur, buah, protein rendah lemak, dan makanan tinggi serat
- Melakukan olahraga secara rutin minimal 150 menit per minggu dengan intensitas sedang
- Menjaga berat badan ideal melalui pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang konsisten
- Melakukan pemeriksaan gula darah secara berkala, terutama bagi individu dengan faktor risiko
FAQ Tentang Gejala Prediabetes
Apakah prediabetes selalu berkembang menjadi diabetes?
Tidak, risiko dapat dikurangi melalui perubahan gaya hidup sehat dan pemantauan rutin.
Berapa lama prediabetes berubah menjadi diabetes?
Waktunya bervariasi pada setiap orang, tergantung faktor risiko dan gaya hidup yang dijalani.
Apakah orang kurus bisa mengalami prediabetes?
Ya, meskipun lebih sering terjadi pada obesitas, orang dengan berat badan normal juga dapat mengalaminya.
Apakah prediabetes menimbulkan gejala?
Sebagian besar kasus tidak bergejala, sehingga pemeriksaan kesehatan berkala sangat penting.
Kapan harus memeriksa gula darah?
Pemeriksaan dianjurkan jika memiliki faktor risiko atau mengalami keluhan yang mengarah pada peningkatan gula darah.
Baca Juga:
Perbedaan HbA1c dengan Gula Darah dalam Pemeriksaan Diabetes



