- Tidak semua kasus Influenza A membutuhkan obat antivirus karena penggunaannya bergantung pada kondisi pasien
- Oseltamivir paling bermanfaat jika diberikan dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul
- Pasien dengan Influenza A berat tetap dapat memperoleh manfaat antivirus meski pengobatan dimulai setelah 48 jam
- Antibiotik tidak efektif untuk mengobati Influenza A karena antibiotik bekerja terhadap bakteri, bukan virus
Kasus Influenza di Indonesia Sedang Meningkat

Kemenkes melaporkan adanya peningkatan aktivitas influenza di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara pada Agustus – September 2026.
Pada minggu ke-38, positivity rate influenza mencapai 56% dengan tingkat deteksi di puskesmas ada di kategori sedang dan di rumah sakit masih rendah.
Laporan pengawasan Kemenkes untuk periode 20-26 September juga menunjukkan positivity rate influenza meningkat menjadi 58% dari 48% pada minggu sebelumnya.
Pada data laboratorium minggu ke-37, dari 265 spesimen yang diperiksa, 148 terdeteksi positif influenza. Sebagian besar kasus positif tersebut merupakan Influenza A H1N1pdm09.
Kemenkes juga menyatakan peningkatan aktivitas tersebut masih sesuai dengan pola musiman influenza di Indonesia.
Oseltamivir (Obat Antivirus) Dilaporkan Sulit Diperoleh, Kemenkes Respons
Sejumlah rumah sakit dilaporkan mengalami kesulitan memperoleh oseltamivir di tengah meningkatnya perhatian terhadap influenza A.
Kemenkes menyebut ketersediaan obat berbeda di sejumlah wilayah dan telah mempercepat distribusinya.
Hingga 28 September 2026, oseltamivir telah didistribusikan ke sekitar 196 rumah sakit.
Lucia Rizka Andalusia, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, menyampaikan pada konferensi pers di Jakarta, Senin (28/9/2026), bahwa pemerintah mempercepat pengadaan oseltamivir karena produksi dalam negeri belum memenuhi kebutuhan.
“Kami melakukan pengadaan oseltamivir dengan berbagai sumber, baik melalui produksi di dalam negeri maupun importasi dengan jalur khusus untuk mengatasi keterlambatan produksi di dalam negeri,” kata Lucia.
Isu keterbatasan stok tidak berarti oseltamivir perlu dibeli atau dikonsumsi masyarakat secara massal.
Kemenkes memprioritaskan obat tersebut untuk pasien yang memang membutuhkan berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter.
Apa Itu Influenza A?

Influenza A adalah salah satu tipe virus influenza yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan.
Virus Influenza A dapat menginfeksi manusia dan hewan, memiliki berbagai subtipe seperti H1N1 dan H3N2, serta dapat menyebabkan pandemi.
Sementara itu, Influenza B terutama menyebabkan flu musiman pada manusia, sedangkan Influenza C umumnya menimbulkan gejala lebih ringan dan Influenza D terutama menginfeksi hewan.
Influenza A menular melalui droplet atau aerosol saat penderita batuk dan bersin, serta kontak dengan permukaan yang terkontaminasi dengan masa inkubasinya sekitar 1-4 hari.
Gejala influenza dapat menyerupai COVID-19 atau infeksi saluran pernapasan lainnya. Diagnosis dapat dilakukan dengan tes cepat influenza atau RT-PCR.
Gejala yang umum antara lain:
- Demam
- Batuk
- Sakit tenggorokan
- Pilek atau hidung tersumbat
- Sakit kepala
- Nyeri otot
- Tubuh terasa lemas
Sebagian orang dapat pulih dari influenza tanpa komplikasi, namun pada kondisi tertentu dokter dapat meresepkan antivirus seperti oseltamivir.
Kelompok berisiko memerlukan pemantauan dan penanganan lebih cepat untuk mencegah kondisi menjadi lebih berat.
Tidak Semua Penderita Influenza A Memerlukan Antivirus
Tidak semua penderita Influenza A membutuhkan antivirus. Kasus ringan umumnya dapat pulih dengan istirahat, cukup cairan, dan obat untuk meredakan gejala.
Dokter dapat mempertimbangkan antivirus seperti oseltamivir berdasarkan kondisi pasien, terutama:
- Mengalami gejala berat, komplikasi, atau kondisi yang terus memburuk
- Memerlukan perawatan di rumah sakit akibat influenza
- Termasuk kelompok berisiko tinggi, seperti lansia, anak kecil, ibu hamil, atau penderita penyakit kronis
- Gejala baru muncul dalam 48 jam pertama sehingga antivirus dapat diberikan lebih awal dan efektif
Seputar Obat Oseltamivir dan Cara Kerjanya

Oseltamivir adalah antivirus golongan neuraminidase inhibitor yang digunakan untuk terapi dan pencegahan influenza A dan B.
Obat ini menghambat enzim neuraminidase yang membantu virus baru keluar dari sel yang terinfeksi dan menyebar ke sel saluran pernapasan lainnya.
Oseltamivir bukan antibiotik. Antibiotik bekerja terhadap bakteri, sedangkan oseltamivir bekerja khusus terhadap virus influenza.
Dosis dan lama terapi perlu disesuaikan dengan usia, berat badan, fungsi ginjal, tingkat keparahan penyakit, dan kondisi medis penyerta.
Sediaan Oseltamivir di Indonesia
Di Indonesia, oseltamivir merupakan obat keras yang penggunaannya memerlukan resep dokter. Sediaannya antara lain:
- Kapsul 30 mg, 45 mg, atau 75 mg
- Suspensi oral yang dapat digunakan pada anak atau pasien dengan kesulitan menelan
Apakah Oseltamivir Bisa Diminum Tanpa Resep Dokter?
Tidak. Oseltamivir harus digunakan berdasarkan resep dan pengawasan dokter.
Penggunaan tanpa indikasi dapat meningkatkan risiko efek samping dan penggunaan antivirus yang tidak tepat dapat berkontribusi terhadap resistensi virus.
Gejala flu ringan atau kontak dengan penderita influenza juga tidak otomatis menjadi alasan untuk mengkonsumsi oseltamivir.
Dokter perlu menilai kondisi dan risiko pasien sebelum menentukan kebutuhan antivirus.
Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Komplikasi Influenza?
Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami influenza berat atau komplikasi, sehingga perlu mendapat perhatian lebih:
- Anak kecil, terutama anak di bawah 5 tahun dan bayi
- Lansia, terutama usia 65 tahun ke atas
- Ibu hamil dan perempuan hingga 2 minggu setelah melahirkan
- Penderita asma atau penyakit paru kronis, termasuk PPOK
- Penderita penyakit jantung, seperti gagal jantung atau penyakit jantung koroner
- Penderita diabetes atau gangguan metabolik tertentu
- Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, misalnya akibat penyakit atau pengobatan tertentu
- Orang dengan kondisi medis kronis lainnya yang dapat meningkatkan risiko komplikasi influenza
Apakah Influenza A Bisa Sembuh Tanpa Antivirus?
Ya, sebagian kasus Influenza A yang ringan dapat sembuh tanpa antivirus. Penanganannya dapat berfokus pada perawatan suportif sambil memantau perkembangan gejala.
Langkah yang dapat dilakukan di rumah:
- Istirahat cukup dan kurangi aktivitas berat
- Minum cukup cairan dan tetap makan sesuai kemampuan
- Pantau demam serta perkembangan gejala
- Gunakan obat pereda gejala sesuai petunjuk tenaga kesehatan
- Segera periksa jika gejala memburuk atau muncul sesak
Risiko Akibat Penggunaan Antivirus Sembarangan
Penggunaan antivirus seperti oseltamivir tanpa indikasi dan pengawasan dokter dapat meningkatkan risiko efek samping, seperti mual, muntah, sakit kepala, atau gangguan saraf.
Obat juga dapat memicu reaksi alergi atau berinteraksi dengan obat lain yang sedang dikonsumsi.
Penggunaan yang tidak tepat, termasuk dosis yang tidak sesuai atau terapi yang tidak diperlukan, juga dapat berkontribusi terhadap resistensi virus.
Selain itu, mengonsumsi antivirus sendiri dapat menunda diagnosis penyakit lain dengan gejala serupa sehingga penanganannya terlambat.
Kapan Influenza A Harus Diperiksakan ke Dokter?
Segera periksa jika influenza disertai sesak, kondisi memburuk, dehidrasi, penurunan kesadaran, atau gejala berat pada kelompok berisiko.
Jika membutuhkan konsultasi atau pemeriksaan laboratorium, Anda dapat mengunjungi Klinik HealthMed dengan informasi berikut:
- Appointment: melalui halaman appointment HealthMed
- WhatsApp: +62 821-8884-587
- Lokasi: Ruko Fresh Market, Jl. Green Lake City Boulevard No. 3, Kota Tangerang
- Layanan: konsultasi dokter dan pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi
FAQ Seputar Influenza A dan Antivirus
Apakah Influenza A perlu antivirus?
Tidak selalu. Kasus ringan pada orang yang tidak memiliki faktor risiko tertentu dapat ditangani dengan perawatan suportif.
Antivirus lebih dipertimbangkan pada penyakit berat, komplikasi, pasien yang dirawat di rumah sakit, atau kelompok dengan risiko komplikasi lebih tinggi.
Apakah semua Influenza A harus minum oseltamivir?
Tidak. Oseltamivir merupakan salah satu antivirus influenza, tetapi penggunaannya disesuaikan dengan kondisi pasien.
Infeksi Influenza A saja tidak otomatis berarti seseorang membutuhkan oseltamivir.
Apakah Influenza A ringan bisa sembuh tanpa antivirus?
Sebagian kasus ringan dapat pulih dengan perawatan suportif dan pemantauan. Namun, kondisi pasien tetap perlu diperhatikan, terutama bila gejala memburuk atau pasien termasuk kelompok berisiko mengalami komplikasi.
Kapan antivirus influenza paling efektif diberikan?
Manfaat klinis antivirus umumnya paling besar bila terapi dimulai sedini mungkin, idealnya dalam 48 jam sejak gejala muncul. Pada pasien dengan penyakit berat, komplikasi, atau risiko tinggi, terapi tetap dapat bermanfaat meskipun dimulai setelah 48 jam.
Apakah antibiotik bisa mengobati Influenza A?
Tidak. Antibiotik digunakan untuk infeksi bakteri, sedangkan Influenza A disebabkan oleh virus.
Antibiotik dapat diperlukan jika dokter menemukan infeksi bakteri yang terjadi bersamaan atau sebagai komplikasi dan memang membutuhkan terapi tersebut.
Baca Juga:
Cara Mencegah Influenza agar Tidak Mudah Tertular
Kapan Sebaiknya Vaksin Influenza: Cek Syarat & Harganya
Referensi:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Kasus influenza meningkat, tetapi masih dalam rentang kewaspadaan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://www.kemkes.go.id/id/kemenkes-kasus-influenza-meningkat-tetapi-masih-dalam-rentang-kewaspadaan
Prisie, M. Y. N. (2026, September 28). Kemenkes: Oseltamivir bukan untuk diminum massal guna cegah influenza. Antara News. https://www.antaranews.com/berita/5761951/kemenkes-oseltamivir-bukan-untuk-diminum-massal-guna-cegah-influenza
Centers for Disease Control and Prevention. (n.d.). Types of influenza viruses. U.S. Department of Health & Human Services. https://www.cdc.gov/flu/about/viruses-types.html
ColumbiaDoctors. (n.d.). Oseltamivir. Columbia University Irving Medical Center. htps://www.columbiadoctors.org/health-library/drug-info/oseltamivir/






