Bahaya Obat Pencahar, Kenali Laxative Abuse dan Melanosis Coli

Bahaya Obat Pencahar, Kenali Laxative Abuse dan Melanosis Coli
Home Edukasi Bahaya Obat Pencahar, Kenali Laxative Abuse dan Melanosis Coli
  • Pencahar bukan pembakar lemak dan BAB lebih sering tidak berarti lemak terbakar lebih banyak
  • Laxative abuse dapat menyebabkan diare, dehidrasi, dan gangguan elektrolit
  • Melanosis coli dapat terjadi akibat penggunaan pencahar anthraquinone seperti senna
  • Melanosis coli umumnya reversibel setelah penggunaan pencahar dihentikan

 

Obat pencahar digunakan untuk membantu mengatasi konstipasi atau sembelit, namun penggunaannya untuk menurunkan berat badan bukanlah cara yang tepat.

BAB lebih sering setelah mengkonsumsi pencahar memang dapat membuat angka pada timbangan turun sementara.

Tetapi kondisi tersebut terutama berkaitan dengan keluarnya isi usus dan cairan, bukan pembakaran lemak tubuh.

Penggunaan pencahar secara berlebihan atau tidak sesuai tujuan medis dikenal sebagai laxative abuse.

Jenis pencahar tertentu yang digunakan dalam jangka panjang juga dapat berkaitan dengan melanosis coli, yaitu perubahan warna pada lapisan usus.

Klinik HealthMed akan membahasnya dalam artikel ini.

 

Apakah Obat Pencahar Bisa Menurunkan Berat Badan?

Obat pencahar hanya dapat menurunkan berat badan sementara akibat berkurangnya isi usus dan cairan tubuh, bukan membakar lemak tubuh.

Berat badan memang dapat terlihat turun setelah menggunakan obat pencahar karena isi usus dan cairan tubuh berkurang setelah buang air besar.

Suatu penelitian di tahun 2010 menjelaskan bahwa sebagian besar zat gizi diserap di usus halus, sedangkan usus besar terutama menyerap air.

Artinya, diare yang dipicu obat pencahar tidak secara efektif mencegah tubuh menyerap kalori dari makanan yang telah dikonsumsi.

Data juga menunjukkan bahwa penyalahgunaan obat pencahar dilaporkan terjadi pada sekitar 10%–60% orang dengan gangguan makan seperti anoreksia dan bulimia nervosa.

Penggunaan pencahar untuk mengontrol berat badan juga dapat menyebabkan kehilangan cairan serta gangguan elektrolit dan keseimbangan asam-basa.

 

Seputar Laxative Abuse

Laxative abuse adalah penggunaan obat pencahar secara tidak tepat atau berlebihan, termasuk ketika pencahar digunakan untuk tujuan menurunkan berat badan meskipun tidak memiliki indikasi medis untuk penggunaannya.

Pencahar sebenarnya dapat digunakan untuk kondisi tertentu, terutama konstipasi. Jenis dan dosisnya dapat berbeda sesuai kondisi seseorang.

Masalah muncul ketika obat tersebut digunakan lebih sering atau lebih banyak dari yang dianjurkan, atau dijadikan metode utama untuk mengendalikan berat badan.

 

5 Bahaya Obat Pencahar untuk Diet

1. Dehidrasi

Penggunaan pencahar yang berlebihan dapat menyebabkan diare dan kehilangan banyak cairan sehingga meningkatkan risiko dehidrasi.

Kondisi ini dapat ditandai dengan rasa haus, mulut kering, lemas, pusing, dan berkurangnya frekuensi buang air kecil.

Jika berlanjut, kehilangan cairan dapat menyebabkan:

Hipovolemia: Penurunan volume darah akibat kehilangan cairan yang berlebihan

Hipotensi ortostatik: Penurunan tekanan darah saat berdiri yang dapat menyebabkan pusing atau terasa ingin pingsan

Gangguan ginjal akut: Penurunan fungsi ginjal akibat berkurangnya aliran darah ke ginjal

Penanganannya dapat meliputi pemantauan tanda vital, rehidrasi oral atau intravena, serta pemeriksaan ureum dan kreatinin bila diperlukan.

2. Gangguan Elektrolit

Penggunaan pencahar secara berlebihan dapat menyebabkan kehilangan elektrolit, terutama ketika disertai diare.

Elektrolit seperti kalium dan natrium berperan penting dalam menjaga fungsi otot dan sistem saraf.

Jika terjadi gangguan elektrolit yang cukup berat, dokter dapat melakukan pemeriksaan kadar elektrolit.

Memberikan penggantian elektrolit melalui suplemen oral atau infus, serta memantau aktivitas jantung dengan EKG.

3. Diare dan Kram Perut

Beberapa jenis pencahar, khususnya pencahar stimulan, dapat menyebabkan kram perut dan diare sebagai efek samping.

Jika pencahar digunakan tanpa kebutuhan medis atau dengan dosis yang tidak sesuai, keluhan tersebut dapat terjadi berulang dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

4. Gangguan Pola Buang Air Besar

Penggunaan pencahar yang tidak tepat juga dapat membuat seseorang semakin bergantung pada obat untuk mengatur pola BAB.

Istilah “usus menjadi malas” dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa perlu terus menggunakan pencahar agar dapat BAB.

5. Melanosis Coli (Perubahan Warna Usus)

Melanosis coli adalah perubahan warna mukosa usus besar menjadi cokelat hingga hitam akibat penumpukan pigmen lipofuscin.

Terutama berkaitan dengan penggunaan pencahar anthraquinone seperti senna dalam jangka panjang.

Kondisi ini umumnya ditemukan melalui kolonoskopi dan kadang digambarkan seperti “kulit macan” atau “kulit harimau”.

 

Jenis dan Kandungan Obat Pencahar yang Perlu Diwaspadai

Jenis dan Kandungan Obat Pencahar yang Perlu Diwaspadai

Penyalahgunaan obat pencahar (laxative abuse) dapat melibatkan pencahar stimulan, baik dalam obat maupun produk berbahan herbal.

Kandungan Obat Pencahar Herbal

Beberapa bahan herbal yang memiliki efek pencahar antara lain:

Senna (Senna alexandrina) — mengandung senosida yang merangsang pergerakan usus dan banyak digunakan sebagai pencahar stimulan

Aloe vera latex — berbeda dari gel lidah buaya, bagian lateks mengandung senyawa dengan efek pencahar

Cascara sagrada — mengandung senyawa antrakinon yang memiliki efek pencahar stimulan

Kelembak (Rheum spp.) — bagian tertentu dari tanaman mengandung senyawa dengan aktivitas pencahar

Kandungan Obat Pencahar Farmasi

Obat pencahar juga tersedia dalam berbagai bahan aktif dengan mekanisme berbeda, termasuk:

Bisakodil (bisacodyl) — pencahar stimulan yang meningkatkan aktivitas usus

Natrium pikosulfat (sodium picosulfate) — pencahar stimulan yang diaktifkan oleh bakteri di usus besar

Gliserin (glycerol) — digunakan secara rektal untuk membantu merangsang pengeluaran tinja

Natrium lauril sulfoasetat — dapat digunakan dalam sediaan enema untuk membantu pengosongan rektum

 

Kandungan Teh Pelangsing Perlu Diperhatikan

Teh pelangsing tidak selalu mengandung pencahar, sehingga penting untuk memeriksa komposisi dan izin edar BPOM sebelum mengkonsumsinya.

Kandungan seperti senna dapat merangsang BAB, tetapi peningkatan frekuensi BAB atau kehilangan cairan bukan berarti terjadi pembakaran lemak.

Waspadai klaim seperti “detox” atau “cleanse” dan konsultasikan penggunaannya dengan dokter atau ahli gizi, terutama jika dikonsumsi secara rutin atau sedang menggunakan obat tertentu.

 

Baca Juga:

Penyebab Berat Badan Turun Drastis dan Pemeriksaannya

Apa Itu Operasi Bariatrik dan Kenapa Viral di Kalangan Artis?

 

Alternatif Menurunkan Berat Badan yang Lebih Aman

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Mengatur pola makan sesuai kebutuhan energi dan zat gizi
  • Memenuhi kebutuhan serat harian
  • Beraktivitas fisik secara rutin
  • Menjaga waktu dan kualitas tidur
  • Menghindari obat atau suplemen penurun berat badan tanpa mengetahui kandungan dan risikonya
  • Berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk program yang sesuai kondisi kesehatan

 

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Penggunaan pencahar sebaiknya tidak terus dilakukan tanpa evaluasi apabila seseorang merasa membutuhkan obat tersebut secara rutin untuk dapat BAB.

Konsultasi dengan dokter terutama diperlukan jika terdapat:

  • Konstipasi yang berulang atau menetap
  • Ketergantungan pada pencahar untuk BAB
  • Diare yang terus berlangsung
  • Nyeri perut berat atau menetap
  • Darah pada tinja
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
  • Tanda dehidrasi, seperti sangat lemas, pusing, atau jarang buang air kecil

 

Kesimpulan

Obat pencahar bukan metode yang tepat untuk menurunkan berat badan. Penurunan angka pada timbangan setelah menggunakan pencahar terutama berkaitan dengan keluarnya isi usus dan cairan, bukan pembakaran lemak.

Penyalahgunaan pencahar atau laxative abuse dapat meningkatkan risiko diare, dehidrasi, gangguan elektrolit, dan masalah pencernaan lainnya.

Penggunaan pencahar tertentu dalam jangka panjang juga dapat berkaitan dengan melanosis coli, yaitu perubahan warna pada mukosa usus besar akibat penumpukan pigmen lipofuscin.

 

FAQ Seputar Bahaya Obat Pencahar untuk Diet

Apakah obat pencahar bisa menurunkan berat badan?

Obat pencahar dapat membuat angka pada timbangan turun sementara karena keluarnya isi usus dan cairan, tetapi tidak berarti tubuh membakar lebih banyak lemak.

Apakah teh pelangsing aman dikonsumsi setiap hari?

Keamanannya bergantung pada kandungan, dosis, kondisi kesehatan, dan tujuan penggunaannya.

Produk yang memiliki efek pencahar tidak sebaiknya digunakan terus-menerus untuk mengejar penurunan berat badan.

Apa itu melanosis coli?

Melanosis coli adalah perubahan warna pada mukosa usus besar yang umumnya berkaitan dengan penggunaan pencahar tertentu, terutama yang mengandung senyawa anthraquinone seperti senna.

Apakah melanosis coli bisa sembuh?

Melanosis coli umumnya dapat membaik setelah penggunaan pencahar yang menjadi penyebabnya dihentikan.

Perubahan warna dapat membutuhkan waktu beberapa bulan untuk kembali mendekati normal.

Apa efek samping terlalu sering menggunakan obat pencahar?

Penggunaan yang tidak tepat dapat menyebabkan diare, kram perut, dehidrasi, dan gangguan elektrolit.

Risiko bergantung pada jenis pencahar, dosis, frekuensi penggunaan, dan kondisi kesehatan seseorang.

 

Baca Juga:

Indonesia Peringkat ke-5, Waspadai Gejala Prediabetes

Apa Itu Real Food? Pengertian dan Rekomendasi Menu

 

Referensi:

Roerig, J. L., Steffen, K. J., Mitchell, J. E., & Zunker, C. (2010). Laxative abuse. Drugs, 70(12), 1487–1503. https://doi.org/10.2165/11898640-000000000-00000

Tian, C., & Al Nasser, Y. (2025). Melanosis coli. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK493146/

Picture of Artikel Telah Ditinjau oleh Profesional
Artikel Telah Ditinjau oleh Profesional

dr. Reyner Ricardo · General Practioner · Universitas Tarumanagara

Demam Tak Kunjung Reda?

Tes darah lengkap, diagnosis cepat, dan konsultasi dokter untuk penanganan yang tepat. Hanya di Klinik HealthMed!