- Eating disorder dapat memengaruhi kesehatan fisik, mental, dan kehidupan sehari-hari
- Penyebabnya meliputi faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan
- Gejalanya tidak selalu terlihat dari berat badan atau bentuk tubuh
- Eating disorder Ariana Grande masih sebatas spekulasi publik tanpa konfirmasi medis
Benarkah Ariana Grande Menderita Eating Disorder?
Belum ada konfirmasi publik yang kredibel bahwa Ariana Grande mengidap eating disorder seperti anoreksia atau bulimia.
Namun pada 2023, Ariana pernah mengungkap bahwa kondisi tubuhnya yang dulu dianggap “lebih sehat” merupakan masa ketika ia tidak sehat.
Ia mengatakan saat itu mengalami pola makan yang buruk dan penggunaan antidepresan bersamaan dengan alkohol.
Setelah membintangi Wicked (2024) dan sekuelnya, Wicked: For Good (2025), perubahan fisik Ariana Grande kembali memicu spekulasi publik.
Lalu perbincangan semakin ramai setelah album Petal dan video musiknya dirilis pada bulan Juli 2026, publik semakin menyoroti berat badan dan kondisi kesehatannya.
Ariana memang pernah mengungkap pola makan yang tidak sehat, tetapi belum ada konfirmasi atau bukti kredibel bahwa ia mengalami eating disorder.
Informasi terbarunya adalah setelah tur Eternal Sunshine berakhir, Ariana berencana mengambil jeda dari aktivitas publik karena sorotan terhadap dirinya yang terus berlanjut.
Ia juga tidak lagi terlibat dalam produksi musikal Sunday in the Park with George di London yang dijadwalkan tampil pada 2027.
Apa Itu Eating Disorder?
Eating disorder adalah kelompok gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan pola makan dan perilaku terkait makanan yang menetap serta dapat berdampak pada kesehatan fisik, psikologis, dan kehidupan sehari-hari.
Dalam DSM-5, eating disorder didefinisikan sebagai gangguan perilaku makan persisten yang mengganggu kesehatan fisik serta fungsi psikososial seseorang.
Gangguan ini dapat berupa pembatasan makan ekstrem, makan berlebihan tanpa kontrol, atau perilaku kompensasi setelah makan.
Eating disorder dapat dialami siapa saja, termasuk orang dengan berat badan normal, overweight, maupun obesitas.
Diperkirakan 9% populasi AS atau 28,8 juta orang akan mengalami eating disorder sepanjang hidupnya.
Sekitar 15% perempuan mengalaminya pada usia 40–50-an, tetapi hanya 27% yang mendapat perawatan.
Namun berat badan bukanlah indikator tunggal untuk menentukan apakah seseorang mengalami eating disorder.
Beberapa jenis eating disorder yang dikenal dalam dunia medis antara lain:
Anoreksia Nervosa
Ditandai dengan pembatasan makan secara ekstrem hingga berat badan berada di bawah batas minimum sesuai usia dan tinggi badan.
Penderitanya memiliki ketakutan intens terhadap kenaikan berat badan serta mengalami body dysmorphia.
Yaitu gangguan persepsi di mana mereka tetap merasa kelebihan berat badan meskipun kondisinya sudah sangat kurus (underweight).
Bulimia Nervosa
Ditandai dengan episode berulang binge eating (makan berlebihan dalam waktu singkat dengan sensasi kehilangan kendali) yang terjadi setidaknya seminggu sekali selama kurun 3 bulan.
Episode ini selalu diikuti oleh perilaku kompensasi yang tidak sehat untuk mencegah kenaikan berat badan.
Seperti memuntahkan makanan secara sengaja, penyalahgunaan obat laksatif, berpuasa ekstrem, atau olahraga berlebihan.
Binge-Eating Disorder
Ditandai dengan episode makan dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari wajar tanpa kendali, yang kerap dilakukan secara sembunyi-sembunyi hingga timbul rasa bersalah atau jijik pada diri sendiri.
Berbeda dari bulimia, penderita BED tidak melakukan perilaku kompensasi secara rutin setelah makan, sehingga kerap memicu peningkatan berat badan atau komplikasi metabolik.
ARFID (Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder)
Ditandai dengan kegagalan persisten untuk memenuhi kebutuhan nutrisi atau energi akibat penolakan terhadap sifat sensorik makanan (seperti tekstur, bau, atau rasa).
Hingga ketakutan akan konsekuensi kognitif, seperti takut tersedak atau muntah. Berbeda dari anoreksia, pembatasan makanan pada ARFID sama sekali tidak didasari oleh kecemasan atas bentuk tubuh atau keinginan menurunkan berat badan.
Apa Penyebab Eating Disorder?
Penyebab eating disorder biasanya tidak berasal dari satu faktor saja. Kondisi ini dapat dipengaruhi kombinasi faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan.
Namun, keberadaan satu faktor tersebut tidak otomatis berarti seseorang akan mengalami eating disorder.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko antara lain:
- Riwayat keluarga dengan gangguan makan atau kondisi kesehatan mental
- Faktor genetik dan biologis
- Ketidakpuasan terhadap berat atau bentuk tubuh
- Tekanan sosial, bullying, dan body shaming
- Paparan media sosial yang memperkuat standar kecantikan tidak realistis
- Kondisi psikologis seperti kecemasan dan rendahnya kepercayaan diri
Kenali Gejala Eating Disorder
Wanita memiliki risiko 2 hingga 3 kali lebih tinggi dibanding pria. Namun, 10%–25% kasus penderita adalah pria, yang kerap kali lambat terdiagnosis karena adanya stigma maskulinitas.
Gejala eating disorder berbeda pada setiap jenisnya, tetapi umumnya meliputi perubahan pola makan, pikiran berlebihan tentang makanan atau berat badan, serta dampak pada kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
Contohnya:
- Terobsesi pada pilihan makanan, berat, atau bentuk tubuh
- Membatasi makanan atau melewatkan waktu makan
- Makan berlebihan dan kehilangan kontrol
- Merasa bersalah setelah makan
- Berolahraga berlebihan untuk kompensasi
- Menghindari makan bersama atau aktivitas sosial
- Perubahan berat badan dan kondisi kesehatan
Bagaimana Eating Disorder Ditangani?
Penanganan eating disorder bergantung pada jenis gangguan, tingkat keparahan, kondisi fisik, serta kebutuhan masing-masing individu.
Pengobatan eating disorder membutuhkan pendekatan medis multidisiplin yang terintegrasi, melibatkan psikiater, psikolog klinis, dokter spesialis, dan ahli gizi klinis.
Intervensi utama berfokus pada psikoterapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT-ED) dan Family-Based Treatment (FBT), untuk memperbaiki distorsi persepsi body image serta pola makan yang maladaptif.
Selain terapi perilaku dan gizi, tata laksana klinis juga mencakup farmakoterapi serta pemantauan fisik secara berkala.
Obat seperti Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI) dapat digunakan untuk membantu mengatasi binge-purging dan kondisi seperti depresi atau kecemasan.
Kondisi fisik dan keseimbangan elektrolit juga perlu dipantau untuk menentukan kebutuhan rawat jalan atau rawat inap.
Bisakah Menilai Eating Disorder Hanya dari Tubuh yang Kurus?
Secara medis, penampilan fisik yang sangat kurus (underweight) tidak dapat dijadikan dasar untuk mendiagnosis seseorang mengidap eating disorder.
Diagnosis gangguan makan membutuhkan evaluasi psikologis dan medis secara menyeluruh, bukan sekadar pengamatan visual.
Tubuh yang sangat kurus bisa disebabkan oleh berbagai faktor medis lain seperti penyakit autoimun, gangguan tiroid, atau genetik.
Bulimia dan Binge-Eating Disorder dapat terjadi pada berat badan normal hingga di atas rata-rata karena berkaitan dengan pola makan dan kondisi mental.
FAQ Seputar Eating Disorder
Apa itu eating disorder?
Eating disorder adalah kelompok gangguan kesehatan mental yang melibatkan pola makan atau perilaku terkait makanan yang dapat mengganggu kesehatan fisik, kondisi psikologis, dan kehidupan sehari-hari.
Apa penyebab eating disorder?
Penyebab eating disorder dapat melibatkan kombinasi faktor biologis, genetik, psikologis, sosial, lingkungan, serta pengalaman pribadi. Tidak ada satu penyebab yang berlaku untuk semua orang.
Apa saja gejala eating disorder?
Gejalanya dapat berupa pembatasan makanan secara ekstrem, makan berlebihan dan kehilangan kontrol, ketakutan berlebihan terhadap kenaikan berat badan, perilaku kompensasi, serta pikiran yang terus-menerus berkaitan dengan makanan atau bentuk tubuh.
Benarkah Ariana Grande mengalami eating disorder?
Tidak tepat menyimpulkan Ariana Grande mengalami eating disorder hanya berdasarkan perubahan tubuh atau penampilannya. Spekulasi publik tidak sama dengan diagnosis medis.
Apakah orang dengan berat badan normal bisa mengalami eating disorder?
Ya. Eating disorder dapat dialami seseorang dengan berbagai bentuk dan ukuran tubuh. Karena itu, kondisi ini tidak dapat dinilai hanya berdasarkan berat badan atau penampilan.
Baca Juga:
Penyebab Berat Badan Turun Drastis dan Pemeriksaannya
Ciri-Ciri Metabolisme Cepat, Apakah Faktor Sulit Naik Berat Badan?



